TEORI SOSIAL RADIKAL

TEORI SOSIAL RADIKAL

Judul Buku      : Teori Sosial Radikal
Editor              : M. Imam Aziz
Penulis             : Dr. Douglass Kellner
Penerbit           : Syarikat Indonesia
Tebal               : ix + 310 halaman

Kellner lebih melirik potensi pengembangan teori sosial radikal itu pada Engels, “sahabat baik” Marx yang selama ini seolah-olah diabaikan. Padahal faktanya, judtru Engels yang lebih awal mencium ketidakberesan dalam masyarakat industri daripada Marx. Engels hidup dalam lingkungan masyarakat industrial yang baru tumbuh, yang melahirkan ketimpangan, kemiskinan di satu sisi dan borjuasi di sisi lain. Dalam buku ini Kellner banyak berbicara tentang berbagai teori kritis yang berkaitan dengan bebagai struktur kehidupan. Mulai dari Horkheimer, Leo Lowenthal, Friedrich Polock, Erich Fromm, Henryk Grosman, dan Herbert Marcuse adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam terbentuknya teori kritis ini.
Horkheimer memulai dengan menunjukkan katerbatasan teori siosial Jerman klasik. Kant dikritik karena mendasarkan filsafat sosial dalam pengalaman dan kemampuan berpikir individu tertentu. Upaya Hegel untuk menempatkan filsafat dalam masyarakat dan sejarah disajikan sebagai suatu perbaikan atas Kant, tetapi ada identitas tendensi yang ditolak. Horkheimer juga mengkritik bentuk idealisme yang sedang berjalan dalam filsafat neo-Kantian, neo-Hegelian, fenomenologi, dan eksistensialisme. Karena metafisika spekulatif mereka meragukan dan karena kecenderungan mereka untuk merayakan ruang transendensi umat manusia yang paling tinggi dan makna atas eksistensinya yang nyata.
Horkheimer berasumsi bahwa filsafat sosial mencakup “keseluruhan kebudayaan manusia yang bersifat material dan spiritual”. Horkheimer menolak berbagai pendapat ilmu sosial spesifik seperti “sosiologi material”. Sebagai konsekwensinya sementara kaum positivis ingin memurnikan filsafat. Horkheimer tetap bertahan dengan pentingnya teori sosial kritis. Baginya gerak filsafat ke arah hal-hal yang universal dan esensial seharusnya merupakan pemberi semangat hidup untuk penelitian sosial, namun pada saat yang bersamaan filsafat juga “harus terbuka” kepada dunia secara memadai untuk memungkinkan dirinya dibuat terkesan, dan ditransformasikan oleh perkembangan dalam studi-studi yang lebih kongkrit.
Horkheimer menggambarkan tujuan karya mereka sebagai perkembangan suatu teori masyarakat yang kontemporer sebagai suatu keseluruhan “yang berusaha” memperoleh keseluruhan proses sosial. Ia menuliskan bahwa dalam peristiwa yang bergejolak orang dapat memahami dan mengkonseptualisasi struktur-struktur kebudayaan yang efektif.
Dalam “Materialisme dan Metafisika”, ia menjelaskan hal yang tercakup dalam pandangan materialisme mengenai dunia, jenis pemikiran, penelitian, dan tindakan yang dilibatkan, Materialisme tidak berarti doktrin metafisik spesifik bagi institut, tetapi sebaliknya mengacu pada keseluruhan gagasan dan sikap praktis yang mengambil bentuk yang berbeda-beda dalam konteks yang berbeda-beda pula. Ia menolak terhadap sistem metafisika, absolutisme, dan semua teori foundationalis yang berusaha menemukan landasan metafisika untuk pengetahuan.
Horkheimer mengklaim bahwa sementara pandangan idealis secara umum berusaha memperoleh pembenaran dan dilanjutkan oleh ideologi kelas penguasa untuk menugaskan kepentingan-kepentingan kelas yang dominan. Dia menolak tesisi metafisika, sebaliknya ia berpendapat bahwa konsep bukanlah organ pengetahuan yang mutlak, namun instrumen belaka untuk mencapai tujuan tertentu, yang harus dikembangkan dan dimodifikasi terus menerus sepanjang masa.
Jika kondisi sejarah berubah, maka konsep-konsep dan teori-teori juga harus berubah. Dengan demikian tidak ada landasan yang stabil untuk pandangan metafisik absolutis. Bahwa hubungan subyek-obyek tidak dapat dideskrpisikan secara akurat oleh gambaran dua kenyataan tetap yang secara konseptual sangat transparan dan bergerak kearah masing-masing. Sebaliknya dalam hal yang kita sebut subyektif, faktor-faktor obyektif beroperasi.
Meterialisme tidak tertarik pada pandangan dunia maupun jiwa manusia. Materialisme memusatkan diri pada pengubahan kondisi-kondisi kongkret yang didalamnya manusia menderita dan tentu saja jiwa mereka pasti terhambat perkembangannya.
Teori kritis dianggap sebagai bentuk praktek sosial yang memproduksikan bentuk-bentuk praktek sosial yang dominan. Teori tradisional adalah lawan dari teori kritis karena teori tradisional secara tidak kritis mereproduksi masyarakat, sementara teori kritis mengekspresikan aktivitas yang berusaha keras merombak masyarakat secara total. Dengan demikian teori sosial berakar dalam “aktivitas kritis” yang bertentangan dan terlibat dalam perjuangan mewujudkan perubahan sosial dan penyatuan teori dan praktek.
Analisis kritis dalam konteks ini, oleh karena meliputi kritik terhadap penindasan dan eksploitasi dan perjuangan utuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Teori kritis juga menolak upaya-upaya untuk mendasarkan Marxisme dalam kesadaran kelas proletar dan perwujudan kaum komunis. Sementara proletar mungkin memiliki pengetahuan akan eksploitasi dirinya dan kebobrokannya, perpecahan kelas buruh dan fakta bahwa banyak anggotanya yang diperlakukan secara brutal dan tidak terdidik, secara memadai mengindikasikan bahwa kaum buruh akan menjadi mangsa kecenderungan kaum reformis dan konservatif, dengan demikian tidak ada jaminan bahwa kesadarannya akan tepat secara  teoritik maupun revolusioner.
Konsep totalitas mengacu pada konteks lain pada perspektif teoritis kritis diakronik yang sama-sama menjiwai kondisi historis yang telah menghasilkan masyarakat kapitalis yang ada dan mengkonseptualisasikan perubahan-perubahan perkembangan kaptalis dan transisi ke sosialisme.
Pada suatu sisi, toeri kritis memuat serangkaian cara untuk memandang teori dan serangkaian praktek investigatif, riset, tekstual, dan politis. Namun teori kritis juga memberikan teori komperhensif yang nyata mengenai masyarakat sekarang disamping orientasi metodologisnya untuk memfungsikan teori dan penelitian sosial dan menghubungkan karya teoritik dengan politik radikal. Secara umum, para pencetus teori kritis berharap menciptakan aspek-aspek teori transformasi kapitalisme kompetitif menjadi kapitalisme monopoli dan fasisme. Dan berharap untuk menjadi bagian dari proses sejarah yang melaluinya. Gagasan mengenai masyarakat masa depan sebagai masyarakat manusia yang bebas, sepanjang masyarakat seperti itu mampu  diwujudkan, dengan mempertimbangkan sarana-sarana teknis yang ada.
Salah satu pandangan institut yang pokok adalah industri kebudayaan yang sekarang ini memainkan peran yang semakin penting dalam mengelola kesadaran dan konflik sosial. Industri kebudayaan merupakan organ penipuan massa yang memanipulasi individu-individu untuk menerima pengorganisasian masyarakat secara umum. Industri kebudayaan sedang memperlihatkan diri dalam bentuk indoktrinasi ideologis canggih yang menggunakan “hiburan” untuk mempermanis penindasan sambil menggerogoti standar kebudayaan. Jika teori kritis ingin berpatisipasi dalam arah kiri yang diperlukan untuk menyingkirkan hegemoni sayap kanan, ia perlu mengembangkan analisis mengenai situasi saat ini yakni Teori Sosial Radikal.
Masyarakat dikontrol secara total, melahirkan teori akhir riwayat individu yang merupakan cerminan dari filsafat pembebasan yang berpendapat bahwa sebagai filsafat yang bersifat idealis dan subyektif, maka sebagai ekspresi suatu wilayah atau kelas yang ingin mengidealiskan sistem dominasinya yang ingin memandang mudah dan membendung kebutuhan-kebutuhan material, penderitaan, penindasan, dan dengan demikian tidak secara memadai bersifat materialis.
Ketika seseorang mengalami penindasan dan kekurangan materi dia dengan lebih mudah memahami pentingnya kebutuhan materi, dimensi materi secara penuh dan dapat lebih mudah mendeteksi resionalisasi, idealisasi, dan fungsi ideologis dari wacana idealis. Ketika seseorang direduksi menjadi obyek, dia dapat dengan mudah memahami sepenuhnya dialektika subyektivikasi dan menafsirkan dinamika subyektivitas yang mendominasi yang mungkin membantu menghasilkan oposisi kritis terhadap subyektivitas sendiri, sebagai suatu upaya imperialis untuk mendominasi dunia.
Sumber ekonomi politik digambarkan oleh Engels sebagai suatu cikal bakal dari Krisis Ekonomi Politik. Ia tertarik menjelaskan secara rinci serangkaian kontradiksi antara kompetisi dan monopoli, penawaran dan permintaan, kekayaan dan kemiskinan, dan kepentingan umum dan yang akhirnya akan membawa sistem kepada krisis. Kenyataan dari Revolusi Industri di Inggris mendorong kaum buruh melakukan garakan revolusioner. Ini tidak lebih disebabkan mereka tak hanya sebagai mesin-mesin untuk menjalankan perintah dari majikan. Hal ini digambarkan oleh Engels sebagai suatu “eksistensi yang nyaman” bagi penguasa tanpa mempedulikan tingkat pendidikan, kesadaran politik, kehidupan intelektual buruh untuk suatu kehidupan yang lebih baik.
Mendeskripsikan perjuangan kelas buruh untuk menggantikan kompetisi dan bersikap optimis mengenai potensi revolusioner kaum proletar. Engels mengklaim bahwa jika kecenderungan yang ada terus berlanjut, krisis perdagangan akan terus berlanjut, dan akan berkembang semakin ganas, semakin parah, dengan berkembangnya industri dan multiplikasi kaum proletar. Kaum proletar akan meningkat jumlahnya dalam proporsi geometrik sebagai akibat dari kehancuran progesif  kelas menengah yang lebih bawah dan langkah-langkah raksasa yang ditempuh oleh modal dalam mengkonsentrasikan dirinya di tangan segelintir orang, dan kaum proletar akan segera merangkul bangsa. Namun dalam perkembangan ini akan hadir suatu tahap ketika kaum proletar menyadari betapa mudahnya kekuasaan yang ada untuk digulingkan.
Mendeskripsikan bagaimana pendidikan kritis dapat mendukung pendidikan multikultural dan kepekaan terhadap perbedaan kultural, dan kemudian memfokuskan pada nilai penting serangkaian besar jenis kemampuan membaca dan menulis secara kritis untuk menangani tantangan revolusi kebudayaan dan teknologi yang saat ini menjadi ajang keterlibatan kita.
Carson dan Friedman (1995), menunjukkaan bagiamana media perwujudan budaya seperti film, video, fotografi, dan multimedia dapat digunakan untuk mendukung pendidikan multikultural. Carson mengembangkan intensitas antusiasmenya bagi pendidikan multikultural sebagai respon untuk secara kreatif menangani perbedaan yang semakin meningkat, yang memungkinkan “stategi-strategi untuk saling berbagi, mamahami dan menikmati” multiplisitas dan perbedaan kultural yang meningkat secara pesat. Oleh sebab itu, kemampuan pemahaman sosial dan kultural yang dikembangkan diperlukan untuk menghargai warisan kultural, sejarah, dan kontribusi-kontribusi berbagai kelompok
Teknologi baru selama ini sering dianggap sebagai sumber kejahatan dan dalam memahami serangkaian wacana yang meledak yang menjadi ciri teknologi baru. Oleh karena itu, pedagogi pasca modern, perlu mengembangkan bentuk-bentuk kemampuan memahami media cetak, media dan komputer secara kritis, yang semuanya memiliki nilai penting yang menentukan dalam kebudayaan teknologi baru dari masa sekarang, dan masa depan yang mendekat dengan cepat. Dunia teknologi merupakan tempat yang nyaman untuk informasi, hiburan, interaksi dan koneksi dimana kaum muda memperoleh ketrampilan pengetahuan dan kemampuan berharga yang perlu untuk menjalani petualangan pasca modern dengan sukses.
Kehidupan manusia lebih multidimensional daripada sebelum dan bagian dari petualangan pasca modern adalah belajar untuk hidup dan  dalam serangkaian ruang sosial. Pendidikan harus menggunakan teknologi baru untuk mengembangkan pendidikan dan menciptakan masyarakat multikultural yang lebih demokratik dan egaliter.
Sejak pertengahan abad kesembilan belas, Marxisme telah berkembang di Eropa oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Meskipun mereka tidak merumuskan tentang pendidikan mereka mengembangkan perspektif teoritik mengenai masyarakat modern yang digunakan untuk menekankan fungsi sosial pendidikan dan kemudian konsep dan metode yang berfungsi merumuskan teori dan mengkritik pendidikan dalam reproduksi masyarakat kapitalis dan mendukung proyek pendidikan alternatif.
Mereka sadar bahwa pendidikan menjadi sangat penting untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dalam “Manifesto Komunis” (1948), Marx dan Engels berpendapat bahwa krisis ekonomi akan menyingkirkan banyak kelas menengah, petani dan buruh ke dalam situasi kemiskinan proletar dan dengan demikian akan menciptakan kelas buruh yang bersatu. Mereka menyatakan bahwa kelas borjuis secara konstan bertarung melawan kelompok-kelompok feodal yang lebih tua, diantara segmen-segmennya sendiri, dan melawan borjuis asing, dan dengan demikian mendapatkan dukungan proletar sebagai sekutunya, termasuk intelektual radikal yang telah mengangkat diri mereka dalam pemahaman teoritik terhadap gerakan historis sebagai satu keseluruhan.
Bagi Marx,  transformasi hubungan sosial akan menciptakan dasar bagi masyarakat baru di mana buruh tidak terasing, dan individu dapat memanfaatkan waktu luang untuk mengembangkan kemampuan manusiawi mereka secara penuh dan pekerjaan itu sendiri akan menjadi suatu proses eksperimen, kreatifitas, dan kemajuan. Masyarakat yang seperti itu akan berbeda dari tatanan sosial masyarakat kapitalis yang diorganisasikan di seputar pekerjaan dan produksi komoditas. Marx menggambarkan tatanan sosial radikal ini dengan istilah “ranah kebebasan”.
Di dalam tradisi Marxian, variasi dan diversitas yang luar biasa jumlahnya dari aliran, gerakan dan pandangan telah berkembang. Mazhab Frankfurt menyimpulkan bahwa keluarga telah merosot sebagai agen otoritas, dan memberi kesempatan kepada media, kelomopk teman dekat, pendidikan sekolah, dan institusi-institusi lain. Mazhab Frankfurt memfokuskan pada peran media dalam mendidik dan mensosialisasikan individu.
Pedagogi kaum tertindas mencoba mentransformasi individu dari menjadi obyek proses pendidikan menjadi subyek dari pembebasan dan otonimanya sendiri. Freire menganggap bahwa Marxisme klasik tidak mengembangkan dimensi pedagogis dan subyektif dan bahwa kaum tertindas haruslah dididik, sehingga mereka bisa menunjukkan pembebasan diri mereka sendiri.
Karya awal Henry Giroux seringkali dikaitkan dengan upaya Michael Apple untuk menggabungkan teori neo-Gramscian mengenai hegemoni untuk menganalisis persekolahan kapitalis sebagai instrumen kekuatan korporasi dan dominasi, seperti yang dihasilkan oleh Bowles dan Gingtis. Apple sangat dipengaruhi oleh Marxisme struktural Althusserian dan kritik Bowles dan Gingtis mengenai persekolahan kapitalis. Giroux dan Apple melihat kebutuhan teori resistensi yang akan mengena pada isu gender dan ras maupun kelas. Pergerakan itu membuat kritik Marxis untuk menyadari bahwa mereka mengabaikan Marxisme untuk populisme demokratis, meskipun orang bisa berpendapat bahwa mereka merekonstruksi Marxisme untuk era sekarang, dalam semangat revisionis.
Carlos Torres mengikuti alur tradisi Marxian dan melanjutkan posisi Paulo Freire dan pedagogi kritis. Torres mengangkat hal-hal penting dalam sosiologi politik pendidikan dan pendidikan komparatif dari perspektif neo-Marxian dalam topik-topik seperti pendidikan, negara, kekuasaan, peranan persekolahan dalam reproduksi sosial dan kebudayaan, peranan teori sosial dalam memahami konflik di dalam pendidikan kontemporer, problematika globalisasi, interkoneksi antar warga Negara, multikulturalisme, dan demokrasi, cara-cara bagaimana demokrasi merestrukturisasi persekolahan termasuk di dalamnya problematika gender, ras, dan kelas dalam mengkontruksi pedagogi yang memajukan individu, solidaritas, penghormatan pada perbedaan, dan menciptakan masyarakat yang lebih demokratis dan adil, dan kontribusi pedagogi kritis pada transformasi pendidikan dan demokrasi masyarakat.
Karya Giroux penting karena mengangkat isu-isu besar kontemporer. Dia memfokuskan pada kontruksi sosial dan representasi media tentang kaum muda, dalam eksplorasi bagaimana kaum muda telah menjadi kambing hitam dari masalah-masalah sosial tetapi sekaligu sdimodifikasi dan dieksploitasi oleh industri iklan, konsumen, dan meda. Iroux selalu menempatkan analisis budayanya di dalam konteks politik dan sejarah.
Giroux secara jeli juga mencatat bahwa perkembangan narasi media tentang kaum muda dan kekerasan pada masa kini, secara umum menghindari komentar kritik pada kaitan anatar eskalasi kerusuhan dalam masyarakat dan peranan kemiskinan dan kondisi sosial dalam menawarkan kekerasan. Di samping itu dia mencatat bahwa pengkambinghitaman media pada kaum muda juga mengabaikan persimpangan peranan orang kulit hitam dalam membangkitkan kekerasan dan destruksi. Pada saat yang sama, pemuda kelas buruh dan pemuda kelas kulit berwarna ditampilkan dalam media dan wacana konservatif sebagai pemangsa dan ancaman terhadap hukum yang ada, keteraturan dan moralitas.
Bagi Giroux, persoalan budaya muncul karena ‘pelaku’ pengalaman sehari-hari seperti kaum muda, gender, ras, kelas, seksualitas dan seterusnya dikontruksi di dalam dan melalui representasi budaya. Seringkali representasi itu tidak kasat mata dan dampaknya tak terduga. Selanjutnya dia juga mengkritik representasi perempuan. Perempuan diposisikan terutama untuk mendukung dan menyediakan kesenangan bagi laki-laki, mereka diasingkan menjadi ‘piala bergilir atau penambah kekuatan laki-laki’.
Sepanjang dalam cultural studies, Giroux melihat kebudayaan sebagai tempat identitas dikontruksi, gairah dimobilisasi, dan nilai-nilai moral dibentuk. Kebudayaan bisa bersifat pedagogis, ia membentuk dan menyemai individu dan kelompok di tempat yang penting bagi politik demokratis liberal. Sementara itu, kebudayaan juga bisa bersifat konserfativ, membentuk individu menjadi konformis pada model pemikiran dan perilaku yang dominan, namun kebudayaan juga menghadirkan perlawanan dan perjuangan..
Dalam konteks kontemporer, Giroux menekankan pentingnya guru dan para pekerja kebudayaan untuk menggairahkan kebudayaan demokratis dan memasuki ruang kbaru untuk revitalisasi demokrasi. Dengan memadukan cultural studies dan pedagogi kritis sejak dekade lalu, Giroux melakukan pembelokan pasca modern yang memperlihatkan potensi bagi proyek rekonstruktif yang secara demokratis mentrasformasi pendidikan, pedagogi, kebudayaan, dan masyarakat.
Dengan menghindari versi pasca modernisme problematic dan ekstrem, Giroux mampu mengembangkan kritik radikal atas teori modern, pedagogi dan politik, sementara ia menyediakan alernatif rekonstruktif yang digali dari tradisi modern dan pasca modern. Secara khusus Giroux menekankan pada bagaimana pendidikan, pemuda, ras, gender dan kebudayaan secara umumsekarang berada dalam wilayah kontestasi.
Hubungan Brecht dan Marxisme sungguh penting dan sangtlah kompleks. Walaupun ia tidak diterima di UniSoviet, tetapi sejak awal dia merupakan lawan dari borjuis yang mapan. Pandangan Brecht mengenai Maxisme tidak terlepas dari dari pengaruh “gurunya” Karl Korsch dan versi Marxisme Korsch mempengaruhi teori dan praktek estetika Brecht. Tidak hanya Korsch yang memepengaruhi konspsi Brecht mengenai dialektiaka Marxian, namun gagasan-gagasan Marxian yang paling berpengaruh ialah gagasan yang dianut bersama oleh Brecht dan Korsch dalam konsepsi mereka mengenai dialektika materialisme dan praktek revolusioner.
Bagi Korsch, keberhasilan Marx adalah analisisnya mengenai aspek-aspek kapitalisme dan masyarakat borjuis yang secara historis bersifat khas dan spesifik, maupun pengembangannya terhadap suatu metode yang memampukan seseorang untuk untuk menganalisis formasi sosial yang khas secara kriris dan dan untuk mentransformasikannya secara radikal. Korsch melihat dialektika Marxian sebagai inti teoritik dari ajaran Marxisme. Dia menggambarkan karakteristik dialektika Marxian dengan prinsip-prinsip spesifikasi historis analisis kritis, dan praktek revolusioner.
Bagi Korsch dialektika Marxian merupakan suatu dialektika kritis yang berusaha mewujudkan analisis kritis dan transformasi terhadap orde borjuis yang ada. Karena bagi Grech dan Korsch, Marxisme memberikan ilmu baru mengenai borjuis dan mengungkapkan persepsi kritis mengenai kelas buruh dan mmengkritik pandangan kelas borjuis yang berkuasa sebagai suatu gerakan oposisi terhadap masyarakat borjuis. Marxisme juga merupakan suatu “teori praktis” yang berusaha mewujudkan transformasi revolusioner. Dengan demikian, Marxisme tidak hanya teori mengenai masyarakat borjuis, namun pada saat yang sama teori mengenai revolusi kaum proletar.
Dalam teater episnya, Brecht berusaha memperjelas asek lingkungan yang secara historis bersifat khusus dengan tujuan menunjukkan bagaimana lingkungan mempengaruhi, membentuk dan seringkali menyerang dan merusakkan karakter-karakter. Teater epik Brecht memisahkan diri dari “teater kuliner” yang memeberikan pengalaman yang menyenangkan kepada penonton agar mudah dicerna.
Baik Brecht maupun Korsch menekankan nilai penting utama produksi dalam kehidupan sosial dan memandang sosialisme sebagai proses berlangsungnya revolusi yang konstan terhadap kelompok-kelompok dan hubungan-hubungan produksi.
Teater epis Brecht dirubah menjadi “teater pembelajaran” yang ia pandang sebagai model untuk “teater masa depan” mereka mengilustrasikan prinsip-prinsip estetika politiknya, yang akan menciptakan suatu jenis baru kebudayaan partisipatif yang akan mendukung revolusi.
Dalam “teori ilmu pendidikan” bagi masa depan depan sosialis, Brecht berpendapat bahwa kenikmatan belaka bersifat merugikan untuk menanamkan pandangan dan tingkah laku sosial yang tepat. Sebaliknya, suatu teater sosialis seharusnya berusaha bermanfaat bagi negara dan mensosialisasikan individu dengan nilai-nilai sosialis yang tepat.
Brecht menginginkan peristiwa yang seperti itu untuk mendapatkan partisipasi audiens maupun untuk menciptakan pendidikan politik seperti model Korsch mengenai dewan-dewan buruh, tidak harus ada hirarki maupun dalam penciptaan drama pembelajaran, senaliknya harus ada pertisipasi demokratis dalam produksi bersama. Terlebih lagi audien diharapkan untuk mengusulkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil dan juga partisipasi sebagai anggota koor.

Komentar

  1. Mummys Gold Casino & Hotel - JT Hub
    Mummys Gold Casino 구미 출장마사지 & Hotel in West 여주 출장마사지 Windsor, Connecticut is located near the Connecticut State River. The casino is open daily 24 이천 출장마사지 hours 경주 출장마사지 and 밀양 출장샵 offers

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer