TEORI SOSIAL RADIKAL
TEORI SOSIAL RADIKAL
Judul Buku :
Teori Sosial Radikal
Editor :
M. Imam Aziz
Penulis :
Dr. Douglass Kellner
Penerbit :
Syarikat Indonesia
Tebal :
ix + 310 halaman
Kellner lebih melirik potensi pengembangan teori sosial
radikal itu pada Engels, “sahabat baik” Marx yang selama ini seolah-olah
diabaikan. Padahal faktanya, judtru Engels yang lebih awal mencium
ketidakberesan dalam masyarakat industri daripada Marx. Engels hidup dalam
lingkungan masyarakat industrial yang baru tumbuh, yang melahirkan ketimpangan,
kemiskinan di satu sisi dan borjuasi di sisi lain. Dalam buku ini Kellner banyak berbicara tentang berbagai
teori kritis yang berkaitan dengan bebagai struktur kehidupan. Mulai dari
Horkheimer, Leo Lowenthal, Friedrich Polock, Erich Fromm, Henryk Grosman, dan
Herbert Marcuse adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam terbentuknya teori
kritis ini.
Horkheimer memulai dengan menunjukkan
katerbatasan teori siosial Jerman klasik. Kant dikritik karena mendasarkan
filsafat sosial dalam pengalaman dan kemampuan berpikir individu tertentu.
Upaya Hegel untuk menempatkan filsafat dalam masyarakat dan sejarah disajikan
sebagai suatu perbaikan atas Kant, tetapi ada identitas tendensi yang ditolak.
Horkheimer juga mengkritik bentuk idealisme yang sedang berjalan dalam filsafat
neo-Kantian, neo-Hegelian, fenomenologi, dan eksistensialisme. Karena
metafisika spekulatif mereka meragukan dan karena kecenderungan mereka untuk
merayakan ruang transendensi umat manusia yang paling tinggi dan makna atas
eksistensinya yang nyata.
Horkheimer berasumsi bahwa filsafat
sosial mencakup “keseluruhan kebudayaan manusia yang bersifat material dan
spiritual”. Horkheimer menolak berbagai pendapat ilmu sosial spesifik seperti
“sosiologi material”. Sebagai konsekwensinya sementara kaum positivis ingin
memurnikan filsafat. Horkheimer tetap bertahan dengan pentingnya teori sosial
kritis. Baginya gerak filsafat ke arah hal-hal yang universal dan esensial
seharusnya merupakan pemberi semangat hidup untuk penelitian sosial, namun pada
saat yang bersamaan filsafat juga “harus terbuka” kepada dunia secara memadai
untuk memungkinkan dirinya dibuat terkesan, dan ditransformasikan oleh
perkembangan dalam studi-studi yang lebih kongkrit.
Horkheimer menggambarkan tujuan karya
mereka sebagai perkembangan suatu teori masyarakat yang kontemporer sebagai
suatu keseluruhan “yang berusaha” memperoleh keseluruhan proses sosial. Ia
menuliskan bahwa dalam peristiwa yang bergejolak orang dapat memahami dan
mengkonseptualisasi struktur-struktur kebudayaan yang efektif.
Dalam “Materialisme dan Metafisika”,
ia menjelaskan hal yang tercakup dalam pandangan materialisme mengenai dunia,
jenis pemikiran, penelitian, dan tindakan yang dilibatkan, Materialisme tidak
berarti doktrin metafisik spesifik bagi institut, tetapi sebaliknya mengacu
pada keseluruhan gagasan dan sikap praktis yang mengambil bentuk yang
berbeda-beda dalam konteks yang berbeda-beda pula. Ia menolak terhadap sistem
metafisika, absolutisme, dan semua teori foundationalis yang berusaha menemukan
landasan metafisika untuk pengetahuan.
Horkheimer mengklaim bahwa sementara
pandangan idealis secara umum berusaha memperoleh pembenaran dan dilanjutkan
oleh ideologi kelas penguasa untuk menugaskan kepentingan-kepentingan kelas
yang dominan. Dia menolak tesisi metafisika, sebaliknya ia berpendapat bahwa
konsep bukanlah organ pengetahuan yang mutlak, namun instrumen belaka untuk
mencapai tujuan tertentu, yang harus dikembangkan dan dimodifikasi terus
menerus sepanjang masa.
Jika kondisi sejarah berubah, maka
konsep-konsep dan teori-teori juga harus berubah. Dengan demikian tidak ada
landasan yang stabil untuk pandangan metafisik absolutis. Bahwa hubungan
subyek-obyek tidak dapat dideskrpisikan secara akurat oleh gambaran dua kenyataan
tetap yang secara konseptual sangat transparan dan bergerak kearah
masing-masing. Sebaliknya dalam hal yang kita sebut subyektif, faktor-faktor
obyektif beroperasi.
Meterialisme tidak tertarik pada
pandangan dunia maupun jiwa manusia. Materialisme memusatkan diri pada
pengubahan kondisi-kondisi kongkret yang didalamnya manusia menderita dan tentu
saja jiwa mereka pasti terhambat perkembangannya.
Teori kritis dianggap sebagai bentuk
praktek sosial yang memproduksikan bentuk-bentuk praktek sosial yang dominan.
Teori tradisional adalah lawan dari teori kritis karena teori tradisional
secara tidak kritis mereproduksi masyarakat, sementara teori kritis
mengekspresikan aktivitas yang berusaha keras merombak masyarakat secara total.
Dengan demikian teori sosial berakar dalam “aktivitas kritis” yang bertentangan
dan terlibat dalam perjuangan mewujudkan perubahan sosial dan penyatuan teori
dan praktek.
Analisis kritis dalam konteks ini,
oleh karena meliputi kritik terhadap penindasan dan eksploitasi dan perjuangan utuk
mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Teori kritis juga menolak upaya-upaya
untuk mendasarkan Marxisme dalam kesadaran kelas proletar dan perwujudan kaum
komunis. Sementara proletar mungkin memiliki pengetahuan akan eksploitasi
dirinya dan kebobrokannya, perpecahan kelas buruh dan fakta bahwa banyak
anggotanya yang diperlakukan secara brutal dan tidak terdidik, secara memadai
mengindikasikan bahwa kaum buruh akan menjadi mangsa kecenderungan kaum reformis
dan konservatif, dengan demikian tidak ada jaminan bahwa kesadarannya akan
tepat secara teoritik maupun
revolusioner.
Konsep totalitas mengacu pada konteks
lain pada perspektif teoritis kritis diakronik yang sama-sama menjiwai kondisi
historis yang telah menghasilkan masyarakat kapitalis yang ada dan
mengkonseptualisasikan perubahan-perubahan perkembangan kaptalis dan transisi
ke sosialisme.
Pada suatu sisi, toeri kritis memuat
serangkaian cara untuk memandang teori dan serangkaian praktek investigatif,
riset, tekstual, dan politis. Namun teori kritis juga memberikan teori
komperhensif yang nyata mengenai masyarakat sekarang disamping orientasi
metodologisnya untuk memfungsikan teori dan penelitian sosial dan menghubungkan
karya teoritik dengan politik radikal. Secara umum, para pencetus teori kritis
berharap menciptakan aspek-aspek teori transformasi kapitalisme kompetitif
menjadi kapitalisme monopoli dan fasisme. Dan berharap untuk menjadi bagian
dari proses sejarah yang melaluinya. Gagasan mengenai masyarakat masa depan
sebagai masyarakat manusia yang bebas, sepanjang masyarakat seperti itu
mampu diwujudkan, dengan
mempertimbangkan sarana-sarana teknis yang ada.
Salah satu pandangan institut yang
pokok adalah industri kebudayaan yang sekarang ini memainkan peran yang semakin
penting dalam mengelola kesadaran dan konflik sosial. Industri kebudayaan
merupakan organ penipuan massa
yang memanipulasi individu-individu untuk menerima pengorganisasian masyarakat
secara umum. Industri kebudayaan sedang memperlihatkan diri dalam bentuk
indoktrinasi ideologis canggih yang menggunakan “hiburan” untuk mempermanis
penindasan sambil menggerogoti standar kebudayaan. Jika teori kritis ingin
berpatisipasi dalam arah kiri yang diperlukan untuk menyingkirkan hegemoni
sayap kanan, ia perlu mengembangkan analisis mengenai situasi saat ini yakni Teori Sosial Radikal.
Masyarakat dikontrol secara total, melahirkan teori akhir
riwayat individu yang merupakan cerminan dari filsafat pembebasan yang
berpendapat bahwa sebagai filsafat yang bersifat idealis dan subyektif, maka sebagai
ekspresi suatu wilayah atau kelas yang ingin mengidealiskan sistem dominasinya
yang ingin memandang mudah dan membendung kebutuhan-kebutuhan material, penderitaan,
penindasan, dan dengan demikian tidak secara memadai bersifat materialis.
Ketika seseorang mengalami penindasan
dan kekurangan materi dia dengan lebih mudah memahami pentingnya kebutuhan
materi, dimensi materi secara penuh dan dapat lebih mudah mendeteksi
resionalisasi, idealisasi, dan fungsi ideologis dari wacana idealis. Ketika
seseorang direduksi menjadi obyek, dia dapat dengan mudah memahami sepenuhnya
dialektika subyektivikasi dan menafsirkan dinamika subyektivitas yang
mendominasi yang mungkin membantu menghasilkan oposisi kritis terhadap
subyektivitas sendiri, sebagai suatu upaya imperialis untuk mendominasi dunia.
Sumber ekonomi politik digambarkan
oleh Engels sebagai suatu cikal bakal dari Krisis Ekonomi Politik. Ia tertarik
menjelaskan secara rinci serangkaian kontradiksi antara kompetisi dan monopoli,
penawaran dan permintaan, kekayaan dan kemiskinan, dan kepentingan umum dan
yang akhirnya akan membawa sistem kepada krisis. Kenyataan dari Revolusi
Industri di Inggris mendorong kaum buruh melakukan garakan revolusioner. Ini
tidak lebih disebabkan mereka tak hanya sebagai mesin-mesin untuk menjalankan
perintah dari majikan. Hal ini digambarkan oleh Engels sebagai suatu
“eksistensi yang nyaman” bagi penguasa tanpa mempedulikan tingkat pendidikan,
kesadaran politik, kehidupan intelektual buruh untuk suatu kehidupan yang lebih
baik.
Mendeskripsikan perjuangan kelas
buruh untuk menggantikan kompetisi dan bersikap optimis mengenai potensi
revolusioner kaum proletar. Engels mengklaim bahwa jika kecenderungan yang ada
terus berlanjut, krisis perdagangan akan terus berlanjut, dan akan berkembang
semakin ganas, semakin parah, dengan berkembangnya industri dan multiplikasi
kaum proletar. Kaum proletar akan meningkat jumlahnya dalam proporsi geometrik
sebagai akibat dari kehancuran progesif
kelas menengah yang lebih bawah dan langkah-langkah raksasa yang
ditempuh oleh modal dalam mengkonsentrasikan dirinya di tangan segelintir orang,
dan kaum proletar akan segera merangkul bangsa. Namun dalam perkembangan ini
akan hadir suatu tahap ketika kaum proletar menyadari betapa mudahnya kekuasaan
yang ada untuk digulingkan.
Mendeskripsikan bagaimana pendidikan kritis
dapat mendukung pendidikan multikultural dan kepekaan terhadap perbedaan
kultural, dan kemudian memfokuskan pada nilai penting serangkaian besar jenis
kemampuan membaca dan menulis secara kritis untuk menangani tantangan revolusi
kebudayaan dan teknologi yang saat ini menjadi ajang keterlibatan kita.
Carson dan Friedman (1995), menunjukkaan bagiamana media
perwujudan budaya seperti film, video, fotografi, dan multimedia dapat
digunakan untuk mendukung pendidikan multikultural. Carson mengembangkan intensitas antusiasmenya
bagi pendidikan multikultural sebagai respon untuk secara kreatif menangani
perbedaan yang semakin meningkat, yang memungkinkan “stategi-strategi untuk
saling berbagi, mamahami dan menikmati” multiplisitas dan perbedaan kultural
yang meningkat secara pesat. Oleh sebab itu, kemampuan pemahaman sosial dan
kultural yang dikembangkan diperlukan untuk menghargai warisan kultural,
sejarah, dan kontribusi-kontribusi berbagai kelompok
Teknologi baru selama ini sering
dianggap sebagai sumber kejahatan dan dalam memahami serangkaian wacana yang
meledak yang menjadi ciri teknologi baru. Oleh karena itu, pedagogi pasca
modern, perlu mengembangkan bentuk-bentuk kemampuan memahami media cetak, media
dan komputer secara kritis, yang semuanya memiliki nilai penting yang
menentukan dalam kebudayaan teknologi baru dari masa sekarang, dan masa depan
yang mendekat dengan cepat. Dunia teknologi merupakan tempat yang nyaman untuk
informasi, hiburan, interaksi dan koneksi dimana kaum muda memperoleh
ketrampilan pengetahuan dan kemampuan berharga yang perlu untuk menjalani
petualangan pasca modern dengan sukses.
Kehidupan manusia lebih
multidimensional daripada sebelum dan bagian dari petualangan pasca modern
adalah belajar untuk hidup dan dalam
serangkaian ruang sosial. Pendidikan harus menggunakan teknologi baru untuk
mengembangkan pendidikan dan menciptakan masyarakat multikultural yang lebih
demokratik dan egaliter.
Sejak pertengahan abad kesembilan belas,
Marxisme telah berkembang di Eropa oleh Karl Marx dan Friedrich Engels.
Meskipun mereka tidak merumuskan tentang pendidikan mereka mengembangkan
perspektif teoritik mengenai masyarakat modern yang digunakan untuk menekankan
fungsi sosial pendidikan dan kemudian konsep dan metode yang berfungsi
merumuskan teori dan mengkritik pendidikan dalam reproduksi masyarakat
kapitalis dan mendukung proyek pendidikan alternatif.
Mereka sadar bahwa pendidikan menjadi
sangat penting untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dalam “Manifesto
Komunis” (1948), Marx dan Engels berpendapat bahwa krisis ekonomi akan
menyingkirkan banyak kelas menengah, petani dan buruh ke dalam situasi
kemiskinan proletar dan dengan demikian akan menciptakan kelas buruh yang
bersatu. Mereka menyatakan bahwa kelas borjuis secara konstan bertarung melawan
kelompok-kelompok feodal yang lebih tua, diantara segmen-segmennya sendiri, dan
melawan borjuis asing, dan dengan demikian mendapatkan dukungan proletar
sebagai sekutunya, termasuk intelektual radikal yang telah mengangkat diri
mereka dalam pemahaman teoritik terhadap gerakan historis sebagai satu
keseluruhan.
Bagi Marx, transformasi hubungan sosial akan menciptakan
dasar bagi masyarakat baru di mana buruh tidak terasing, dan individu dapat memanfaatkan
waktu luang untuk mengembangkan kemampuan manusiawi mereka secara penuh dan
pekerjaan itu sendiri akan menjadi suatu proses eksperimen, kreatifitas, dan
kemajuan. Masyarakat yang seperti itu akan berbeda dari tatanan sosial
masyarakat kapitalis yang diorganisasikan di seputar pekerjaan dan produksi
komoditas. Marx menggambarkan tatanan sosial radikal ini dengan istilah “ranah
kebebasan”.
Di dalam tradisi Marxian, variasi dan
diversitas yang luar biasa jumlahnya dari aliran, gerakan dan pandangan telah
berkembang. Mazhab Frankfurt menyimpulkan bahwa keluarga telah merosot sebagai
agen otoritas, dan memberi kesempatan kepada media, kelomopk teman dekat,
pendidikan sekolah, dan institusi-institusi lain. Mazhab Frankfurt memfokuskan
pada peran media dalam mendidik dan mensosialisasikan individu.
Pedagogi kaum tertindas mencoba
mentransformasi individu dari menjadi obyek proses pendidikan menjadi subyek
dari pembebasan dan otonimanya sendiri. Freire menganggap bahwa Marxisme klasik
tidak mengembangkan dimensi pedagogis dan subyektif dan bahwa kaum tertindas
haruslah dididik, sehingga mereka bisa menunjukkan pembebasan diri mereka
sendiri.
Karya awal Henry Giroux seringkali
dikaitkan dengan upaya Michael Apple untuk menggabungkan teori neo-Gramscian
mengenai hegemoni untuk menganalisis persekolahan kapitalis sebagai instrumen
kekuatan korporasi dan dominasi, seperti yang dihasilkan oleh Bowles dan
Gingtis. Apple sangat dipengaruhi oleh Marxisme struktural Althusserian dan
kritik Bowles dan Gingtis mengenai persekolahan kapitalis. Giroux dan Apple
melihat kebutuhan teori resistensi yang akan mengena pada isu gender dan ras
maupun kelas. Pergerakan itu membuat kritik Marxis untuk menyadari bahwa mereka
mengabaikan Marxisme untuk populisme demokratis, meskipun orang bisa
berpendapat bahwa mereka merekonstruksi Marxisme untuk era sekarang, dalam
semangat revisionis.
Carlos Torres mengikuti alur tradisi
Marxian dan melanjutkan posisi Paulo Freire dan pedagogi kritis. Torres
mengangkat hal-hal penting dalam sosiologi politik pendidikan dan pendidikan
komparatif dari perspektif neo-Marxian dalam topik-topik seperti pendidikan,
negara, kekuasaan, peranan persekolahan dalam reproduksi sosial dan kebudayaan,
peranan teori sosial dalam memahami konflik di dalam pendidikan kontemporer,
problematika globalisasi, interkoneksi antar warga Negara, multikulturalisme,
dan demokrasi, cara-cara bagaimana demokrasi merestrukturisasi persekolahan
termasuk di dalamnya problematika gender, ras, dan kelas dalam mengkontruksi
pedagogi yang memajukan individu, solidaritas, penghormatan pada perbedaan, dan
menciptakan masyarakat yang lebih demokratis dan adil, dan kontribusi pedagogi
kritis pada transformasi pendidikan dan demokrasi masyarakat.
Karya Giroux penting karena
mengangkat isu-isu besar kontemporer. Dia memfokuskan pada kontruksi sosial dan
representasi media tentang kaum muda, dalam eksplorasi bagaimana kaum muda
telah menjadi kambing hitam dari masalah-masalah sosial tetapi sekaligu
sdimodifikasi dan dieksploitasi oleh industri iklan, konsumen, dan meda. Iroux
selalu menempatkan analisis budayanya di dalam konteks politik dan sejarah.
Giroux secara jeli juga mencatat
bahwa perkembangan narasi media tentang kaum muda dan kekerasan pada masa kini,
secara umum menghindari komentar kritik pada kaitan anatar eskalasi kerusuhan
dalam masyarakat dan peranan kemiskinan dan kondisi sosial dalam menawarkan
kekerasan. Di samping itu dia mencatat bahwa pengkambinghitaman media pada kaum
muda juga mengabaikan persimpangan peranan orang kulit hitam dalam
membangkitkan kekerasan dan destruksi. Pada saat yang sama, pemuda kelas buruh
dan pemuda kelas kulit berwarna ditampilkan dalam media dan wacana konservatif
sebagai pemangsa dan ancaman terhadap hukum yang ada, keteraturan dan
moralitas.
Bagi Giroux, persoalan budaya muncul
karena ‘pelaku’ pengalaman sehari-hari seperti kaum muda, gender, ras, kelas,
seksualitas dan seterusnya dikontruksi di dalam dan melalui representasi
budaya. Seringkali representasi itu tidak kasat mata dan dampaknya tak terduga.
Selanjutnya dia juga mengkritik representasi perempuan. Perempuan diposisikan
terutama untuk mendukung dan menyediakan kesenangan bagi laki-laki, mereka
diasingkan menjadi ‘piala bergilir atau penambah kekuatan laki-laki’.
Sepanjang dalam cultural studies, Giroux melihat kebudayaan sebagai tempat
identitas dikontruksi, gairah dimobilisasi, dan nilai-nilai moral dibentuk.
Kebudayaan bisa bersifat pedagogis, ia membentuk dan menyemai individu dan
kelompok di tempat yang penting bagi politik demokratis liberal. Sementara itu,
kebudayaan juga bisa bersifat konserfativ, membentuk individu menjadi konformis
pada model pemikiran dan perilaku yang dominan, namun kebudayaan juga
menghadirkan perlawanan dan perjuangan..
Dalam konteks kontemporer, Giroux
menekankan pentingnya guru dan para pekerja kebudayaan untuk menggairahkan
kebudayaan demokratis dan memasuki ruang kbaru untuk revitalisasi demokrasi.
Dengan memadukan cultural studies dan
pedagogi kritis sejak dekade lalu, Giroux melakukan pembelokan pasca modern
yang memperlihatkan potensi bagi proyek rekonstruktif yang secara demokratis
mentrasformasi pendidikan, pedagogi, kebudayaan, dan masyarakat.
Dengan menghindari versi pasca
modernisme problematic dan ekstrem, Giroux mampu mengembangkan kritik radikal atas
teori modern, pedagogi dan politik, sementara ia menyediakan alernatif
rekonstruktif yang digali dari tradisi modern dan pasca modern. Secara khusus
Giroux menekankan pada bagaimana pendidikan, pemuda, ras, gender dan kebudayaan
secara umumsekarang berada dalam wilayah kontestasi.
Hubungan Brecht dan
Marxisme sungguh penting dan sangtlah kompleks. Walaupun ia tidak diterima di
UniSoviet, tetapi sejak awal dia merupakan lawan dari borjuis yang mapan.
Pandangan Brecht mengenai Maxisme tidak terlepas dari dari pengaruh “gurunya”
Karl Korsch dan versi Marxisme Korsch mempengaruhi teori dan praktek estetika
Brecht. Tidak hanya Korsch yang memepengaruhi konspsi Brecht mengenai
dialektiaka Marxian, namun gagasan-gagasan Marxian yang paling berpengaruh
ialah gagasan yang dianut bersama oleh Brecht dan Korsch dalam konsepsi mereka
mengenai dialektika materialisme dan praktek revolusioner.
Bagi Korsch, keberhasilan
Marx adalah analisisnya mengenai aspek-aspek kapitalisme dan masyarakat borjuis
yang secara historis bersifat khas dan spesifik, maupun pengembangannya
terhadap suatu metode yang memampukan seseorang untuk untuk menganalisis
formasi sosial yang khas secara kriris dan dan untuk mentransformasikannya
secara radikal. Korsch melihat dialektika Marxian sebagai inti teoritik dari
ajaran Marxisme. Dia menggambarkan karakteristik dialektika Marxian dengan
prinsip-prinsip spesifikasi historis analisis kritis, dan praktek revolusioner.
Bagi Korsch dialektika
Marxian merupakan suatu dialektika kritis yang berusaha mewujudkan analisis
kritis dan transformasi terhadap orde borjuis yang ada. Karena bagi Grech dan
Korsch, Marxisme memberikan ilmu baru mengenai borjuis dan mengungkapkan
persepsi kritis mengenai kelas buruh dan mmengkritik pandangan kelas borjuis
yang berkuasa sebagai suatu gerakan oposisi terhadap masyarakat borjuis.
Marxisme juga merupakan suatu “teori praktis” yang berusaha mewujudkan
transformasi revolusioner. Dengan demikian, Marxisme tidak hanya teori mengenai
masyarakat borjuis, namun pada saat yang sama teori mengenai revolusi kaum
proletar.
Dalam teater episnya,
Brecht berusaha memperjelas asek lingkungan yang secara historis bersifat
khusus dengan tujuan menunjukkan bagaimana lingkungan mempengaruhi, membentuk
dan seringkali menyerang dan merusakkan karakter-karakter. Teater epik Brecht
memisahkan diri dari “teater kuliner” yang memeberikan pengalaman yang
menyenangkan kepada penonton agar mudah dicerna.
Baik Brecht maupun Korsch
menekankan nilai penting utama produksi dalam kehidupan sosial dan memandang
sosialisme sebagai proses berlangsungnya revolusi yang konstan terhadap
kelompok-kelompok dan hubungan-hubungan produksi.
Teater epis Brecht dirubah
menjadi “teater pembelajaran” yang ia pandang sebagai model untuk “teater masa
depan” mereka mengilustrasikan prinsip-prinsip estetika politiknya, yang akan
menciptakan suatu jenis baru kebudayaan partisipatif yang akan mendukung
revolusi.
Dalam “teori ilmu pendidikan” bagi
masa depan depan sosialis, Brecht berpendapat bahwa kenikmatan belaka bersifat
merugikan untuk menanamkan pandangan dan tingkah laku sosial yang tepat.
Sebaliknya, suatu teater sosialis seharusnya berusaha bermanfaat bagi negara
dan mensosialisasikan individu dengan nilai-nilai sosialis yang tepat.
Brecht menginginkan peristiwa yang seperti
itu untuk mendapatkan partisipasi audiens maupun untuk menciptakan pendidikan
politik seperti model Korsch mengenai dewan-dewan buruh, tidak harus ada
hirarki maupun dalam penciptaan drama pembelajaran, senaliknya harus ada
pertisipasi demokratis dalam produksi bersama. Terlebih lagi audien diharapkan
untuk mengusulkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil dan juga
partisipasi sebagai anggota koor.
Kellner lebih melirik potensi pengembangan teori sosial
radikal itu pada Engels, “sahabat baik” Marx yang selama ini seolah-olah
diabaikan. Padahal faktanya, judtru Engels yang lebih awal mencium
ketidakberesan dalam masyarakat industri daripada Marx. Engels hidup dalam
lingkungan masyarakat industrial yang baru tumbuh, yang melahirkan ketimpangan,
kemiskinan di satu sisi dan borjuasi di sisi lain. Dalam buku ini Kellner banyak berbicara tentang berbagai
teori kritis yang berkaitan dengan bebagai struktur kehidupan. Mulai dari
Horkheimer, Leo Lowenthal, Friedrich Polock, Erich Fromm, Henryk Grosman, dan
Herbert Marcuse adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam terbentuknya teori
kritis ini.
Horkheimer memulai dengan menunjukkan
katerbatasan teori siosial Jerman klasik. Kant dikritik karena mendasarkan
filsafat sosial dalam pengalaman dan kemampuan berpikir individu tertentu.
Upaya Hegel untuk menempatkan filsafat dalam masyarakat dan sejarah disajikan
sebagai suatu perbaikan atas Kant, tetapi ada identitas tendensi yang ditolak.
Horkheimer juga mengkritik bentuk idealisme yang sedang berjalan dalam filsafat
neo-Kantian, neo-Hegelian, fenomenologi, dan eksistensialisme. Karena
metafisika spekulatif mereka meragukan dan karena kecenderungan mereka untuk
merayakan ruang transendensi umat manusia yang paling tinggi dan makna atas
eksistensinya yang nyata.
Horkheimer berasumsi bahwa filsafat
sosial mencakup “keseluruhan kebudayaan manusia yang bersifat material dan
spiritual”. Horkheimer menolak berbagai pendapat ilmu sosial spesifik seperti
“sosiologi material”. Sebagai konsekwensinya sementara kaum positivis ingin
memurnikan filsafat. Horkheimer tetap bertahan dengan pentingnya teori sosial
kritis. Baginya gerak filsafat ke arah hal-hal yang universal dan esensial
seharusnya merupakan pemberi semangat hidup untuk penelitian sosial, namun pada
saat yang bersamaan filsafat juga “harus terbuka” kepada dunia secara memadai
untuk memungkinkan dirinya dibuat terkesan, dan ditransformasikan oleh
perkembangan dalam studi-studi yang lebih kongkrit.
Horkheimer menggambarkan tujuan karya
mereka sebagai perkembangan suatu teori masyarakat yang kontemporer sebagai
suatu keseluruhan “yang berusaha” memperoleh keseluruhan proses sosial. Ia
menuliskan bahwa dalam peristiwa yang bergejolak orang dapat memahami dan
mengkonseptualisasi struktur-struktur kebudayaan yang efektif.
Dalam “Materialisme dan Metafisika”,
ia menjelaskan hal yang tercakup dalam pandangan materialisme mengenai dunia,
jenis pemikiran, penelitian, dan tindakan yang dilibatkan, Materialisme tidak
berarti doktrin metafisik spesifik bagi institut, tetapi sebaliknya mengacu
pada keseluruhan gagasan dan sikap praktis yang mengambil bentuk yang
berbeda-beda dalam konteks yang berbeda-beda pula. Ia menolak terhadap sistem
metafisika, absolutisme, dan semua teori foundationalis yang berusaha menemukan
landasan metafisika untuk pengetahuan.
Horkheimer mengklaim bahwa sementara
pandangan idealis secara umum berusaha memperoleh pembenaran dan dilanjutkan
oleh ideologi kelas penguasa untuk menugaskan kepentingan-kepentingan kelas
yang dominan. Dia menolak tesisi metafisika, sebaliknya ia berpendapat bahwa
konsep bukanlah organ pengetahuan yang mutlak, namun instrumen belaka untuk
mencapai tujuan tertentu, yang harus dikembangkan dan dimodifikasi terus
menerus sepanjang masa.
Jika kondisi sejarah berubah, maka
konsep-konsep dan teori-teori juga harus berubah. Dengan demikian tidak ada
landasan yang stabil untuk pandangan metafisik absolutis. Bahwa hubungan
subyek-obyek tidak dapat dideskrpisikan secara akurat oleh gambaran dua kenyataan
tetap yang secara konseptual sangat transparan dan bergerak kearah
masing-masing. Sebaliknya dalam hal yang kita sebut subyektif, faktor-faktor
obyektif beroperasi.
Meterialisme tidak tertarik pada
pandangan dunia maupun jiwa manusia. Materialisme memusatkan diri pada
pengubahan kondisi-kondisi kongkret yang didalamnya manusia menderita dan tentu
saja jiwa mereka pasti terhambat perkembangannya.
Teori kritis dianggap sebagai bentuk
praktek sosial yang memproduksikan bentuk-bentuk praktek sosial yang dominan.
Teori tradisional adalah lawan dari teori kritis karena teori tradisional
secara tidak kritis mereproduksi masyarakat, sementara teori kritis
mengekspresikan aktivitas yang berusaha keras merombak masyarakat secara total.
Dengan demikian teori sosial berakar dalam “aktivitas kritis” yang bertentangan
dan terlibat dalam perjuangan mewujudkan perubahan sosial dan penyatuan teori
dan praktek.
Analisis kritis dalam konteks ini,
oleh karena meliputi kritik terhadap penindasan dan eksploitasi dan perjuangan utuk
mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Teori kritis juga menolak upaya-upaya
untuk mendasarkan Marxisme dalam kesadaran kelas proletar dan perwujudan kaum
komunis. Sementara proletar mungkin memiliki pengetahuan akan eksploitasi
dirinya dan kebobrokannya, perpecahan kelas buruh dan fakta bahwa banyak
anggotanya yang diperlakukan secara brutal dan tidak terdidik, secara memadai
mengindikasikan bahwa kaum buruh akan menjadi mangsa kecenderungan kaum reformis
dan konservatif, dengan demikian tidak ada jaminan bahwa kesadarannya akan
tepat secara teoritik maupun
revolusioner.
Konsep totalitas mengacu pada konteks
lain pada perspektif teoritis kritis diakronik yang sama-sama menjiwai kondisi
historis yang telah menghasilkan masyarakat kapitalis yang ada dan
mengkonseptualisasikan perubahan-perubahan perkembangan kaptalis dan transisi
ke sosialisme.
Pada suatu sisi, toeri kritis memuat
serangkaian cara untuk memandang teori dan serangkaian praktek investigatif,
riset, tekstual, dan politis. Namun teori kritis juga memberikan teori
komperhensif yang nyata mengenai masyarakat sekarang disamping orientasi
metodologisnya untuk memfungsikan teori dan penelitian sosial dan menghubungkan
karya teoritik dengan politik radikal. Secara umum, para pencetus teori kritis
berharap menciptakan aspek-aspek teori transformasi kapitalisme kompetitif
menjadi kapitalisme monopoli dan fasisme. Dan berharap untuk menjadi bagian
dari proses sejarah yang melaluinya. Gagasan mengenai masyarakat masa depan
sebagai masyarakat manusia yang bebas, sepanjang masyarakat seperti itu
mampu diwujudkan, dengan
mempertimbangkan sarana-sarana teknis yang ada.
Salah satu pandangan institut yang
pokok adalah industri kebudayaan yang sekarang ini memainkan peran yang semakin
penting dalam mengelola kesadaran dan konflik sosial. Industri kebudayaan
merupakan organ penipuan massa
yang memanipulasi individu-individu untuk menerima pengorganisasian masyarakat
secara umum. Industri kebudayaan sedang memperlihatkan diri dalam bentuk
indoktrinasi ideologis canggih yang menggunakan “hiburan” untuk mempermanis
penindasan sambil menggerogoti standar kebudayaan. Jika teori kritis ingin
berpatisipasi dalam arah kiri yang diperlukan untuk menyingkirkan hegemoni
sayap kanan, ia perlu mengembangkan analisis mengenai situasi saat ini yakni Teori Sosial Radikal.
Masyarakat dikontrol secara total, melahirkan teori akhir
riwayat individu yang merupakan cerminan dari filsafat pembebasan yang
berpendapat bahwa sebagai filsafat yang bersifat idealis dan subyektif, maka sebagai
ekspresi suatu wilayah atau kelas yang ingin mengidealiskan sistem dominasinya
yang ingin memandang mudah dan membendung kebutuhan-kebutuhan material, penderitaan,
penindasan, dan dengan demikian tidak secara memadai bersifat materialis.
Ketika seseorang mengalami penindasan
dan kekurangan materi dia dengan lebih mudah memahami pentingnya kebutuhan
materi, dimensi materi secara penuh dan dapat lebih mudah mendeteksi
resionalisasi, idealisasi, dan fungsi ideologis dari wacana idealis. Ketika
seseorang direduksi menjadi obyek, dia dapat dengan mudah memahami sepenuhnya
dialektika subyektivikasi dan menafsirkan dinamika subyektivitas yang
mendominasi yang mungkin membantu menghasilkan oposisi kritis terhadap
subyektivitas sendiri, sebagai suatu upaya imperialis untuk mendominasi dunia.
Sumber ekonomi politik digambarkan
oleh Engels sebagai suatu cikal bakal dari Krisis Ekonomi Politik. Ia tertarik
menjelaskan secara rinci serangkaian kontradiksi antara kompetisi dan monopoli,
penawaran dan permintaan, kekayaan dan kemiskinan, dan kepentingan umum dan
yang akhirnya akan membawa sistem kepada krisis. Kenyataan dari Revolusi
Industri di Inggris mendorong kaum buruh melakukan garakan revolusioner. Ini
tidak lebih disebabkan mereka tak hanya sebagai mesin-mesin untuk menjalankan
perintah dari majikan. Hal ini digambarkan oleh Engels sebagai suatu
“eksistensi yang nyaman” bagi penguasa tanpa mempedulikan tingkat pendidikan,
kesadaran politik, kehidupan intelektual buruh untuk suatu kehidupan yang lebih
baik.
Mendeskripsikan perjuangan kelas
buruh untuk menggantikan kompetisi dan bersikap optimis mengenai potensi
revolusioner kaum proletar. Engels mengklaim bahwa jika kecenderungan yang ada
terus berlanjut, krisis perdagangan akan terus berlanjut, dan akan berkembang
semakin ganas, semakin parah, dengan berkembangnya industri dan multiplikasi
kaum proletar. Kaum proletar akan meningkat jumlahnya dalam proporsi geometrik
sebagai akibat dari kehancuran progesif
kelas menengah yang lebih bawah dan langkah-langkah raksasa yang
ditempuh oleh modal dalam mengkonsentrasikan dirinya di tangan segelintir orang,
dan kaum proletar akan segera merangkul bangsa. Namun dalam perkembangan ini
akan hadir suatu tahap ketika kaum proletar menyadari betapa mudahnya kekuasaan
yang ada untuk digulingkan.
Mendeskripsikan bagaimana pendidikan kritis
dapat mendukung pendidikan multikultural dan kepekaan terhadap perbedaan
kultural, dan kemudian memfokuskan pada nilai penting serangkaian besar jenis
kemampuan membaca dan menulis secara kritis untuk menangani tantangan revolusi
kebudayaan dan teknologi yang saat ini menjadi ajang keterlibatan kita.
Teknologi baru selama ini sering
dianggap sebagai sumber kejahatan dan dalam memahami serangkaian wacana yang
meledak yang menjadi ciri teknologi baru. Oleh karena itu, pedagogi pasca
modern, perlu mengembangkan bentuk-bentuk kemampuan memahami media cetak, media
dan komputer secara kritis, yang semuanya memiliki nilai penting yang
menentukan dalam kebudayaan teknologi baru dari masa sekarang, dan masa depan
yang mendekat dengan cepat. Dunia teknologi merupakan tempat yang nyaman untuk
informasi, hiburan, interaksi dan koneksi dimana kaum muda memperoleh
ketrampilan pengetahuan dan kemampuan berharga yang perlu untuk menjalani
petualangan pasca modern dengan sukses.
Kehidupan manusia lebih
multidimensional daripada sebelum dan bagian dari petualangan pasca modern
adalah belajar untuk hidup dan dalam
serangkaian ruang sosial. Pendidikan harus menggunakan teknologi baru untuk
mengembangkan pendidikan dan menciptakan masyarakat multikultural yang lebih
demokratik dan egaliter.
Sejak pertengahan abad kesembilan belas,
Marxisme telah berkembang di Eropa oleh Karl Marx dan Friedrich Engels.
Meskipun mereka tidak merumuskan tentang pendidikan mereka mengembangkan
perspektif teoritik mengenai masyarakat modern yang digunakan untuk menekankan
fungsi sosial pendidikan dan kemudian konsep dan metode yang berfungsi
merumuskan teori dan mengkritik pendidikan dalam reproduksi masyarakat
kapitalis dan mendukung proyek pendidikan alternatif.
Mereka sadar bahwa pendidikan menjadi
sangat penting untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dalam “Manifesto
Komunis” (1948), Marx dan Engels berpendapat bahwa krisis ekonomi akan
menyingkirkan banyak kelas menengah, petani dan buruh ke dalam situasi
kemiskinan proletar dan dengan demikian akan menciptakan kelas buruh yang
bersatu. Mereka menyatakan bahwa kelas borjuis secara konstan bertarung melawan
kelompok-kelompok feodal yang lebih tua, diantara segmen-segmennya sendiri, dan
melawan borjuis asing, dan dengan demikian mendapatkan dukungan proletar
sebagai sekutunya, termasuk intelektual radikal yang telah mengangkat diri
mereka dalam pemahaman teoritik terhadap gerakan historis sebagai satu
keseluruhan.
Bagi Marx, transformasi hubungan sosial akan menciptakan
dasar bagi masyarakat baru di mana buruh tidak terasing, dan individu dapat memanfaatkan
waktu luang untuk mengembangkan kemampuan manusiawi mereka secara penuh dan
pekerjaan itu sendiri akan menjadi suatu proses eksperimen, kreatifitas, dan
kemajuan. Masyarakat yang seperti itu akan berbeda dari tatanan sosial
masyarakat kapitalis yang diorganisasikan di seputar pekerjaan dan produksi
komoditas. Marx menggambarkan tatanan sosial radikal ini dengan istilah “ranah
kebebasan”.
Di dalam tradisi Marxian, variasi dan
diversitas yang luar biasa jumlahnya dari aliran, gerakan dan pandangan telah
berkembang. Mazhab Frankfurt menyimpulkan bahwa keluarga telah merosot sebagai
agen otoritas, dan memberi kesempatan kepada media, kelomopk teman dekat,
pendidikan sekolah, dan institusi-institusi lain. Mazhab Frankfurt memfokuskan
pada peran media dalam mendidik dan mensosialisasikan individu.
Pedagogi kaum tertindas mencoba
mentransformasi individu dari menjadi obyek proses pendidikan menjadi subyek
dari pembebasan dan otonimanya sendiri. Freire menganggap bahwa Marxisme klasik
tidak mengembangkan dimensi pedagogis dan subyektif dan bahwa kaum tertindas
haruslah dididik, sehingga mereka bisa menunjukkan pembebasan diri mereka
sendiri.
Karya awal Henry Giroux seringkali
dikaitkan dengan upaya Michael Apple untuk menggabungkan teori neo-Gramscian
mengenai hegemoni untuk menganalisis persekolahan kapitalis sebagai instrumen
kekuatan korporasi dan dominasi, seperti yang dihasilkan oleh Bowles dan
Gingtis. Apple sangat dipengaruhi oleh Marxisme struktural Althusserian dan
kritik Bowles dan Gingtis mengenai persekolahan kapitalis. Giroux dan Apple
melihat kebutuhan teori resistensi yang akan mengena pada isu gender dan ras
maupun kelas. Pergerakan itu membuat kritik Marxis untuk menyadari bahwa mereka
mengabaikan Marxisme untuk populisme demokratis, meskipun orang bisa
berpendapat bahwa mereka merekonstruksi Marxisme untuk era sekarang, dalam
semangat revisionis.
Carlos Torres mengikuti alur tradisi
Marxian dan melanjutkan posisi Paulo Freire dan pedagogi kritis. Torres
mengangkat hal-hal penting dalam sosiologi politik pendidikan dan pendidikan
komparatif dari perspektif neo-Marxian dalam topik-topik seperti pendidikan,
negara, kekuasaan, peranan persekolahan dalam reproduksi sosial dan kebudayaan,
peranan teori sosial dalam memahami konflik di dalam pendidikan kontemporer,
problematika globalisasi, interkoneksi antar warga Negara, multikulturalisme,
dan demokrasi, cara-cara bagaimana demokrasi merestrukturisasi persekolahan
termasuk di dalamnya problematika gender, ras, dan kelas dalam mengkontruksi
pedagogi yang memajukan individu, solidaritas, penghormatan pada perbedaan, dan
menciptakan masyarakat yang lebih demokratis dan adil, dan kontribusi pedagogi
kritis pada transformasi pendidikan dan demokrasi masyarakat.
Karya Giroux penting karena
mengangkat isu-isu besar kontemporer. Dia memfokuskan pada kontruksi sosial dan
representasi media tentang kaum muda, dalam eksplorasi bagaimana kaum muda
telah menjadi kambing hitam dari masalah-masalah sosial tetapi sekaligu
sdimodifikasi dan dieksploitasi oleh industri iklan, konsumen, dan meda. Iroux
selalu menempatkan analisis budayanya di dalam konteks politik dan sejarah.
Giroux secara jeli juga mencatat
bahwa perkembangan narasi media tentang kaum muda dan kekerasan pada masa kini,
secara umum menghindari komentar kritik pada kaitan anatar eskalasi kerusuhan
dalam masyarakat dan peranan kemiskinan dan kondisi sosial dalam menawarkan
kekerasan. Di samping itu dia mencatat bahwa pengkambinghitaman media pada kaum
muda juga mengabaikan persimpangan peranan orang kulit hitam dalam
membangkitkan kekerasan dan destruksi. Pada saat yang sama, pemuda kelas buruh
dan pemuda kelas kulit berwarna ditampilkan dalam media dan wacana konservatif
sebagai pemangsa dan ancaman terhadap hukum yang ada, keteraturan dan
moralitas.
Bagi Giroux, persoalan budaya muncul
karena ‘pelaku’ pengalaman sehari-hari seperti kaum muda, gender, ras, kelas,
seksualitas dan seterusnya dikontruksi di dalam dan melalui representasi
budaya. Seringkali representasi itu tidak kasat mata dan dampaknya tak terduga.
Selanjutnya dia juga mengkritik representasi perempuan. Perempuan diposisikan
terutama untuk mendukung dan menyediakan kesenangan bagi laki-laki, mereka
diasingkan menjadi ‘piala bergilir atau penambah kekuatan laki-laki’.
Sepanjang dalam cultural studies, Giroux melihat kebudayaan sebagai tempat
identitas dikontruksi, gairah dimobilisasi, dan nilai-nilai moral dibentuk.
Kebudayaan bisa bersifat pedagogis, ia membentuk dan menyemai individu dan
kelompok di tempat yang penting bagi politik demokratis liberal. Sementara itu,
kebudayaan juga bisa bersifat konserfativ, membentuk individu menjadi konformis
pada model pemikiran dan perilaku yang dominan, namun kebudayaan juga
menghadirkan perlawanan dan perjuangan..
Dalam konteks kontemporer, Giroux
menekankan pentingnya guru dan para pekerja kebudayaan untuk menggairahkan
kebudayaan demokratis dan memasuki ruang kbaru untuk revitalisasi demokrasi.
Dengan memadukan cultural studies dan
pedagogi kritis sejak dekade lalu, Giroux melakukan pembelokan pasca modern
yang memperlihatkan potensi bagi proyek rekonstruktif yang secara demokratis
mentrasformasi pendidikan, pedagogi, kebudayaan, dan masyarakat.
Dengan menghindari versi pasca
modernisme problematic dan ekstrem, Giroux mampu mengembangkan kritik radikal atas
teori modern, pedagogi dan politik, sementara ia menyediakan alernatif
rekonstruktif yang digali dari tradisi modern dan pasca modern. Secara khusus
Giroux menekankan pada bagaimana pendidikan, pemuda, ras, gender dan kebudayaan
secara umumsekarang berada dalam wilayah kontestasi.
Hubungan Brecht dan
Marxisme sungguh penting dan sangtlah kompleks. Walaupun ia tidak diterima di
UniSoviet, tetapi sejak awal dia merupakan lawan dari borjuis yang mapan.
Pandangan Brecht mengenai Maxisme tidak terlepas dari dari pengaruh “gurunya”
Karl Korsch dan versi Marxisme Korsch mempengaruhi teori dan praktek estetika
Brecht. Tidak hanya Korsch yang memepengaruhi konspsi Brecht mengenai
dialektiaka Marxian, namun gagasan-gagasan Marxian yang paling berpengaruh
ialah gagasan yang dianut bersama oleh Brecht dan Korsch dalam konsepsi mereka
mengenai dialektika materialisme dan praktek revolusioner.
Bagi Korsch, keberhasilan
Marx adalah analisisnya mengenai aspek-aspek kapitalisme dan masyarakat borjuis
yang secara historis bersifat khas dan spesifik, maupun pengembangannya
terhadap suatu metode yang memampukan seseorang untuk untuk menganalisis
formasi sosial yang khas secara kriris dan dan untuk mentransformasikannya
secara radikal. Korsch melihat dialektika Marxian sebagai inti teoritik dari
ajaran Marxisme. Dia menggambarkan karakteristik dialektika Marxian dengan
prinsip-prinsip spesifikasi historis analisis kritis, dan praktek revolusioner.
Bagi Korsch dialektika
Marxian merupakan suatu dialektika kritis yang berusaha mewujudkan analisis
kritis dan transformasi terhadap orde borjuis yang ada. Karena bagi Grech dan
Korsch, Marxisme memberikan ilmu baru mengenai borjuis dan mengungkapkan
persepsi kritis mengenai kelas buruh dan mmengkritik pandangan kelas borjuis
yang berkuasa sebagai suatu gerakan oposisi terhadap masyarakat borjuis.
Marxisme juga merupakan suatu “teori praktis” yang berusaha mewujudkan
transformasi revolusioner. Dengan demikian, Marxisme tidak hanya teori mengenai
masyarakat borjuis, namun pada saat yang sama teori mengenai revolusi kaum
proletar.
Dalam teater episnya,
Brecht berusaha memperjelas asek lingkungan yang secara historis bersifat
khusus dengan tujuan menunjukkan bagaimana lingkungan mempengaruhi, membentuk
dan seringkali menyerang dan merusakkan karakter-karakter. Teater epik Brecht
memisahkan diri dari “teater kuliner” yang memeberikan pengalaman yang
menyenangkan kepada penonton agar mudah dicerna.
Baik Brecht maupun Korsch
menekankan nilai penting utama produksi dalam kehidupan sosial dan memandang
sosialisme sebagai proses berlangsungnya revolusi yang konstan terhadap
kelompok-kelompok dan hubungan-hubungan produksi.
Teater epis Brecht dirubah
menjadi “teater pembelajaran” yang ia pandang sebagai model untuk “teater masa
depan” mereka mengilustrasikan prinsip-prinsip estetika politiknya, yang akan
menciptakan suatu jenis baru kebudayaan partisipatif yang akan mendukung
revolusi.
Dalam “teori ilmu pendidikan” bagi
masa depan depan sosialis, Brecht berpendapat bahwa kenikmatan belaka bersifat
merugikan untuk menanamkan pandangan dan tingkah laku sosial yang tepat.
Sebaliknya, suatu teater sosialis seharusnya berusaha bermanfaat bagi negara
dan mensosialisasikan individu dengan nilai-nilai sosialis yang tepat.
Brecht menginginkan peristiwa yang seperti
itu untuk mendapatkan partisipasi audiens maupun untuk menciptakan pendidikan
politik seperti model Korsch mengenai dewan-dewan buruh, tidak harus ada
hirarki maupun dalam penciptaan drama pembelajaran, senaliknya harus ada
pertisipasi demokratis dalam produksi bersama. Terlebih lagi audien diharapkan
untuk mengusulkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil dan juga
partisipasi sebagai anggota koor.


Mummys Gold Casino & Hotel - JT Hub
BalasHapusMummys Gold Casino 구미 출장마사지 & Hotel in West 여주 출장마사지 Windsor, Connecticut is located near the Connecticut State River. The casino is open daily 24 이천 출장마사지 hours 경주 출장마사지 and 밀양 출장샵 offers